Di antara ratusan camilan khas Nusantara, Godeblag adalah salah satu yang paling sulit ditemukan — bahkan oleh warga Tasikmalaya sendiri. Camilan berbahan dasar ampas singkong ini hanya diproduksi di Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, dan jumlah pengrajinnya semakin berkurang dari tahun ke tahun. Kalau kamu belum pernah mencobanya, inilah saat yang tepat sebelum Godeblag benar-benar hilang dari pasaran.
Apa Itu Godeblag?
Godeblag adalah camilan tradisional khas Tasikmalaya yang terbuat dari ampas singkong — sisa perasan singkong setelah patinya diambil untuk membuat tepung tapioka. Bahan yang dianggap "sisa" ini justru menjadi bahan utama camilan yang punya penggemar setia.
Berbentuk kepingan bundar pipih dengan diameter sekitar 8–12 cm, Godeblag memiliki tekstur yang sangat renyah dan ringan setelah digoreng. Warnanya kecokelatan dengan permukaan yang tidak rata — menandakan proses pembuatan yang masih tradisional dan manual.
Nama Godeblag sendiri konon berasal dari bunyi "godeblag" — suara kepingan adonan saat dijatuhkan atau ditekan di atas permukaan datar saat proses pembentukan.
Proses Pembuatan Godeblag
Proses pembuatan Godeblag adalah warisan turun-temurun yang sepenuhnya manual:
- Singkong diparut — menghasilkan parutan halus
- Diperas kuat-kuat — pati singkong (untuk tapioka) dipisahkan, yang tersisa adalah ampas basah
- Ampas dibumbui — dicampur garam, bawang putih, dan sedikit ketumbar
- Dibentuk kepingan bulat pipih — dengan tangan atau ditekan menggunakan alat sederhana
- Dijemur di bawah sinar matahari — 1–2 hari hingga benar-benar kering dan keras
- Digoreng dalam minyak panas — hingga mengembang, renyah, dan berwarna keemasan
Yang menarik: karena terbuat dari ampas (bukan pati), tekstur Godeblag setelah digoreng lebih berpori dan ringan dibanding kerupuk singkong biasa. Gigitannya renyah tapi tidak keras.
Rasa dan Tekstur Godeblag
Godeblag punya profil rasa yang sederhana namun satisfying:
- Rasa: Gurih asin dengan sedikit aroma bawang putih dan ketumbar
- Tekstur: Renyah ringan, berpori, tidak keras di gigi
- Aroma: Harum gorengan dengan sedikit aroma rempah
- Aftertaste: Bersih, tidak meninggalkan rasa berminyak berlebih
Godeblag cocok dimakan langsung sebagai camilan, atau dijadikan teman makan nasi layaknya kerupuk — cocok dengan lauk apapun, terutama masakan berkuah.
Mengapa Godeblag Terancam Punah?
Ada beberapa alasan mengapa Godeblag semakin langka:
Proses produksi yang tidak efisien. Pembuatan Godeblag sangat bergantung pada cuaca — proses penjemuran membutuhkan sinar matahari penuh selama 1–2 hari. Di musim hujan, produksi praktis berhenti.
Margin keuntungan yang tipis. Karena berbahan ampas singkong, harga jualnya tidak bisa terlalu tinggi. Pengrajin sering beralih ke produk lain yang lebih menguntungkan.
Regenerasi pengrajin yang terputus. Generasi muda di Manonjaya banyak yang memilih bekerja di kota dibanding melanjutkan kerajinan camilan tradisional orang tua mereka.
Kalah saing dengan camilan modern. Keripik kemasan pabrik yang lebih tahan lama dan murah membuat Godeblag tergeser dari rak-rak toko oleh-oleh.
Di Mana Beli Godeblag di Tasikmalaya?
Godeblag tidak dijual di sembarang tempat. Berikut lokasi yang paling mungkin:
- Sentra produksi Kecamatan Manonjaya — langsung dari pengrajin, harga paling murah dan produk paling segar
- Pasar Manonjaya — tersedia di los camilan tradisional, terutama pagi hari
- Pusat Oleh-Oleh Jl. HZ. Mustofa, Tasikmalaya — tidak semua toko menyediakan, perlu tanya dulu
- Pasar Cikurubuk Tasikmalaya — kadang tersedia di pedagang camilan tradisional
Harga: Rp 10.000 – Rp 25.000 per bungkus tergantung ukuran
Tips: Kalau berkunjung ke Manonjaya, tanya langsung ke warga setempat di mana pengrajin Godeblag yang masih aktif berproduksi. Cara terbaik sekaligus membantu ekonomi pengrajin lokal secara langsung.
Godeblag vs Rengginang Oyek — Dua Camilan Langka Tasikmalaya
Tasikmalaya punya dua camilan berbahan singkong yang sama-sama langka. Ini perbandingannya:
| Godeblag | Rengginang Oyek | |
|---|---|---|
| Bahan utama | Ampas singkong (sisa peras) | Singkong parut (oyek) |
| Bentuk | Kepingan bundar pipih besar | Bulat tebal seperti rengginang |
| Tekstur | Berpori, sangat ringan | Lebih padat dan renyah |
| Rasa | Gurih asin sederhana | Gurih dengan aroma ketumbar-kencur |
| Kelangkaan | Sangat langka | Cukup mudah ditemukan |
| Sentra produksi | Manonjaya | Tersebar di Tasikmalaya |
Keduanya layak dibawa pulang sebagai oleh-oleh — dan keduanya adalah alasan kuat untuk mampir ke Tasikmalaya.
Suka camilan tradisional khas Tasikmalaya? Jangan lewatkan Rengginang Oyek — camilan berbahan singkong lainnya yang sama-sama langka dan penuh karakter.
Temukan lebih banyak oleh-oleh khas Tasikmalaya →
FAQ — Godeblag Manonjaya Tasikmalaya
Apa itu Godeblag dan dari mana asalnya?
Godeblag adalah camilan tradisional khas Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Terbuat dari ampas singkong yang dibumbui, dijemur, lalu digoreng hingga renyah. Termasuk camilan yang semakin langka karena sedikit pengrajin yang masih memproduksinya.
Apakah Godeblag sama dengan kerupuk singkong biasa?
Tidak sama. Godeblag terbuat dari ampas singkong (sisa setelah patinya diambil), sedangkan kerupuk singkong biasa menggunakan singkong segar atau tepung tapioka. Tekstur Godeblag lebih berpori dan ringan karena kandungan patinya sudah berkurang.
Di mana beli Godeblag asli Manonjaya?
Lokasi terbaik adalah langsung di Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya — baik di pasar setempat maupun langsung ke pengrajin. Di Kota Tasikmalaya, bisa dicari di Pusat Oleh-Oleh Jl. HZ. Mustofa, meski tidak selalu tersedia.
Berapa harga Godeblag Manonjaya?
Harga berkisar Rp 10.000 hingga Rp 25.000 per bungkus, tergantung ukuran kemasan dan lokasi pembelian. Harga di sentra produksi Manonjaya biasanya lebih murah.
Apakah Godeblag bisa tahan lama untuk dibawa sebagai oleh-oleh?
Ya, dalam kemasan tertutup rapat Godeblag bisa tahan 2–3 minggu pada suhu ruang. Pastikan kemasan kedap udara setelah dibuka agar tetap renyah.
Kenapa Godeblag disebut camilan yang hampir punah?
Karena jumlah pengrajin Godeblag semakin sedikit — proses produksinya yang manual dan sangat bergantung cuaca membuat banyak pengrajin beralih ke produk lain. Belum ada upaya produksi massal yang berhasil mempertahankan kualitas aslinya.